Kamis, 15 Februari 2018

Laporan Fisika Dasar II



LAPORAN TETAP



                                                 PRAKTIKUM FISIKA DASAR II

Disusun Oleh :
KELOMPOK XI





PROGRAM STUDI KETEKNIKAN PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PANGAN DAN AGROINDUSTRI
UNIVERSITAS MATARAM
2015


HALAMAN PENGESAHAN
            Laporan Praktikum ini disusun sebagai salah satu syarat kelulusan Mata Kuliah Fisika Dasar II pada Semester Gasal Tahun Pelajaran 2015/2016.
Mataram, 20 Januari 2016
Megetahui
Co.Asst Praktikum Fisika Dasar II                             Praktikan


Hera Damayanti                                                         Agung Kurniawan
NIM. J1B012053                                                        NIM. J1B 0140002


Aida Marlaeni
NIM. J1B 014006


Alif Taftazani
NIM. J1B 014008


Aluh Silvia Iswari
NIM. J1B 014010


Sopyan Iqbal
NIM. J1B014117


 Menyetujui
Koordinator Praktikum Fisika Dasar II


Sirajuddin Haji Abdullah, S.TP.,MP.
NIP. 19710101 200501 1 004


                                                                                       
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur tim penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya kepada tim penulis, sehingga dapat menyelesaikan Laporan Tetap Fisika Dasar II  ini tepat pada waktunya. Shalawat serta  salam kita berikan kepada junjungan alam Nabi Besar Muhammad SAW yang telah membawa kita dari zaman kegelapan menuju zaman yang lebih terang benderang ini.
Tim penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian laporan tetap Mata kuliah Fisika Dasar ini. Kami sadar bahwa banyak terdapat kekurangan dalam laporan akhir ini, baik dari segi penyusunan maupun isi dari laporan akhir ini. Untuk itu kami mengharapkan saran dan tanggapannya pada laporan akhir yang kami susun ini.

Mataram, 21 Januari 2015      

Tim Penyusun


DAFTAR ISI
                                    Halaman
HALAMAN JUDUL........................................................................................ i
HALAMAN PENGESAHAN........................................................................ ii
KATA PENGANTAR.................................................................................... iii
DAFTAR ISI................................................................................................... iv
DAFTAR TABEL........................................................................................... vi
DAFTRA GAMBAR..................................................................................... vii
ACARA I. USAHA DAN ENERGI
BAB I.   PENDAHULUAN.............................................................. 1
BAB II.  TINJAUAN PUSTAKA.................................................... 2
BAB III. METODOLOGI PRAKTIKUM....................................... 5
BAB IV.  HASIL PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN          6
 BAB V.   PEMBAHASAN.............................................................. 16
 BAB VI.  PENUTUP........................................................................ 19
ACARA II. GERAK JATUH BEBAS
BAB I. ... PENDAHULUAN............................................................ 20
BAB II. . TINJAUAN PUSTAKA................................................... 21
BAB III. METODOLOGI PRAKTIKUM....................................... 23
BAB IV. HASIL PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN          24
BAB V. . PEMBAHASAN............................................................... 36
BAB VI. PENUTUP......................................................................... 38

ACARA III. TEKANAN HIDROSTATIS
BAB I. ... PENDAHULUAN............................................................ 39
BAB II. . TINJAUAN PUSTAKA................................................... 40
BAB III. METODOLOGI PRAKTIKUM....................................... 43
BAB IV. HASIL PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN          44
BAB V. . PEMBAHASAN............................................................... 48
BAB VI. PENUTUP......................................................................... 50

ACARA IV. SUHU DAN PEMUAIAN
BAB I. ... PENDAHULUAN............................................................ 51
BAB II... TINJAUAN PUSTAKA................................................... 52
BAB III. METODOLOGI PRAKTIKUM....................................... 56
BAB IV. HASIL PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN          57
BAB V.   PEMBAHASAN............................................................... 61
  BAB VI.  PENUTUP....................................................................... ..63

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... ..64

DAFTAR TABEL

Tabel                                                                                                        Halaman

1. Hasil Pengamatan Usaha dan Kerja ................................................................. 6
2. Hasil Pengamatan Gerak Jatuh Bebas............................................................... 24
3. Hasil Pengamatan Pengaruh Diameter Pipa Hidrostatis................................... 44
4. Hasil Pengamatan Pengaruh Jenis Cairan Terhadap Tekanan Hidrostatis........ 44
5. Hasil Pengamatan Pengaruh Ketinggian terhadap Tegangan Permukaan......... 44
6. Hasil Pengamatan Pengaruh Suhu Terhadap Volume....................................... 58



DAFTAR GAMBAR

Gambar                                                                                                   Halaman

1. Grafik hubungan Usaha dengan Jarak ............................................................. 7
2. Grafik hubungan Usaha dengan Gaya.............................................................. 7
3. Grafik hubungan Kecepatan dengan Waktu..................................................... 24
4. Grafik hubungan Kecepatan dengan Ketinggian.............................................. 24
5. Grafik hubungan Tekanan dengan Diameter.................................................... 44
6. Grafik hubungan Tekanan dengan Jenis Cairan................................................ 45
7. Grafik hubungan Tegangan dengan Ketinggian............................................... 46
8. Grafik hubungan Suhu denggan Volume.......................................................... 58


BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang
            Sering kali seseorang mengatakan bahwa sedang melakukan usaha  untuk mencapai tujuannya. Setiap kerja yang dilakukan pasti memerlukan usaha dan memerlukan energi. Sehingga energi diartikan sebagai kemampuan untuk melakukan usaha. Dalam rumusan matematis, usaha merupakan hasil kali gaya dan perpindahannya oleh karena itu gaya yang diberikan harus menyebabkan benda berpindah dari satu tempat ketempat yang lain. Sedangkan Energi tidak dapat langsung disusun rumusan matematisnya, karena energi dibagi beberapa macam, misalnya energi kinetik adalah hasil kali massa benda dan kuadrat kecepatannya. 
Menurut Osa Pauliza dalam bukunyaFisika Kelompok Teknologi energi didefinisikan sebagai kemampuan untuk melakukan usaha. Dan energi terbagi menjadi energi kinetik dan energi potensial. Menurut Dian Surdijhani tentang usaha dalam bukunyaBe Smart Ilmu Pengetahuan Alam besarnya usaha sama dengan hasil kali gaya dengan perpindahannya. Benda dikatakan memiliki energi jika benda tersebut mempunyai kemampuan untuk melakukan kerja. Oleh karena itu, untuk membedakan antara usaha dan energi perlu diketahui konsep dasar dari keduanya. Oleh karena itu, penting kiranya dilakukan praktikum ini untuk mengetahui perbedaan antara usaha dan energi.
1.2. Tujuan praktikum
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui pengaruh beban terhadap usaha yang diberikan.







 
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Usaha
Usaha atau kerja (dilambangkan dengan W dari Bahasa Inggris Work) adalah energi yang disalurkan gaya ke sebuah benda sehingga benda tersebut bergerak. Usaha yang diberikan terhadap pada benda dapat dilakukan oleh gaya yang besar dan arahnya tetap. Maupun oleh gaya yang besar dan arahnya tidak tetap. Contoh gaya yang besar dan arahnya selalu konstan adalah gaya gravitasi bumi, sedangkan contoh gaya yang vbesar dan arahnya tidak konstan adalah gaya pegas. (Halliday, 2009)
2.2.Gaya
Gaya adalah suatu kekuatan (tarik atau dorongan) yang mengakibatkan benda yang dikenainya akan mengalami perubahan posisi atau kedudukan serta berubah bentuk. Gaya juga dapat diartikan sebagai suatu tarikan atau dorongan yang dikerahkan sebuah benda terhadap benda lain. Selain mempunyai arah, gaya pun mempunyai nilai, maka gaya merupakan besaran vektor. Gaya dapat menyebabkan sebuah benda tersebut berubah bentuk, berubah posisi, berubah kecepatan, berubah panjang atau volume serta berubah arah. Besar kecilnya maupun kuat lemahnya gaya yang harus kita keluarkan untuk suatu kegiatan, tergantung jenis kegiatannya (Supriyono, 2009).
2.3. Energi
Energi merupakan salah satu konsep penting dalam sains. Kata energi berasal dari bahasa Yunani, yaitu ergon yang berarti “kerja”. Jadi, energi didefinisikan sebagai kemampuan untuk melakukan kerja atau usaha. Energi merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan di alam ini, terutama bagi kehidupan manusia, karena segala sesuatu yang kita lakukan memerlukan energi. Suatu benda yang bergerak pasti pada mulanya terjadi perubahan gerak. Suatu benda terjadi perubahan gerak bilamana pada benda itu dikenai gaya atau yang disimbolkan dengan F. Adapun bunyi hukum kekekalan energi “energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan”, tetapi dapat berubah daribentuk yang satu ke bentuk yang lain". Satuan Energi dalam SI dinyatakan dalam Joule (J). Selain Joule, satuan lain energi adalah kalori (kal). (Hamidah,2009)
2.4.Gravitasi
Apabila sebuah benda diangkat, usaha gaya angkat adalah positif, bila sebuah pegas diregangkan, usaha gaya regang adalah positif, bila gas dimampatkan di dalam silinder, usaha gaya yang dimampatkan itu juga positif. Sebaliknya, usaha gaya gravitasi pada benda yang terangkat adalah negatif karena gaya gravitasi (arah ke bawah) berlawanan dengan arah perpindahan (arah ke atas). Apabila suatu benda meluncur di atas permukaan yang diam, usaha gaya gesekan yang dilakukan pada benda itu adalah negatif, karena gaya ini selalu berlawanan dengan arah perpindahan benda. Terhadap permukaan yang yang diam itu, gaya gesekan tidak melakukan usaha, karena permukaan ini tidak bergerak, begitupun kalau kita sampai habis tenaga memegang sebuah benda berat dengan lengan terentang tanpa bergerak, dikatakan tidak ada usaha dalam arti teknik karena tiadanya gerak itu. Bahkan jika kita berjalan di atas lantai yang mendatar selagi benda itu dipegang, tidak ada usaha, karena gaya (vertikal) yang menahannya tidak mempunyai komponen dalam arah gerak (horisontal). Demikian pula, usaha gaya normal yang dikerjakan terhadap sebuah benda oleh suatu permukaan tempat benda itu bergerak, adalah nol, sama seperti usaha gaya sentripetal yang bekerja terhadap sebuah benda yang bergerak melingkar (Zemansky, 2010).
2.5.Faktor Yang Mempengaruhi Usaha
Beberapa faktor yang mempengaruhi usaha adalah tenaga yang dikeluarkan untukmencapai usaha tersebut, selain itu usaha yang bernilai negatif akan menghasilkan perubahann yang negatif pula dan usaha yang dilakukan pada benda diam tidak akan menghasilkan perubahan apapun yang bearti tujuan usaha tidak akan didapatkan atau Jika gaya tersebut berarah tegak lurus dengan arah perpindahan benda, maka gaya tersebut tidak melakukan usaha apapun. Beberapa contohgaya yang tidak melakukan usaha adalah:Gaya sentripetal, arahnya selalu tegak lurus lintasannya, maka usaha oleh gaya sentripetal selalu nol, Gaya normal, arahnya selalu tegak lurus bidang dimana benda bergeser, maka usaha oleh gaya normal selalu nol. (Pauliza, 2012)


BAB III
METODELOGI PRAKTIKUM
3.1. Pelaksanaan Praktikum
Praktikum ini dilaksanakan pada hari selasa 19 Januari 2016 di Laboratorium Teknik Bioproses Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri Universitas Mataram.
3.2. Alat dan Bahan Praktikum
3.2.1. Alat Praktikum
Adapun alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini antara lain penggaris dan  timbangan analitik.
3.2.2. Bahan Praktikum
Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini antara lain briket, piring, air dalam botol, kotak, gelas, dan kertas label.
3.3. Prosedur Kerja
Adapun prosedur kerja yang digunakan pada praktikum ini adalah sebagai berikut :
1.    Disiapkan alat dan bahan yakni briket, piring, air dalam botol, kotak, gelas, dan kertas label.
2.    Ditimbang briket, piring, air dalam botol, kotak dan gelas dengan menggunakan timbangn analitik.
3.    Dicatat massa masing-masing bahan.
4.    Dilakukan percobaan pada masing-masing bahan dengan mendorong bahan satu persatu pada jarak 1,2 dan 3 m dengan menggunakan satu jari dengan tenaga biasa.


BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Pengamatan
NO
Nama Bahan
Jenis Bahan
Massa (kg)
Gaya (N)
Jarak (m)
Usaha (J)
1
Kotak
Ringan
0,12826
1,2826
1
1
1
1,2826 
2,4939
3,8694


Sedang
0,24939
2,4939
2
2
2
2,5652
4,9878
7,7388


Berat
0,38694
3,8694
3
3
3
3,8478
7,4817
11,6082
2
Briket
Ringan
0,20395
2,0395
1
1
1
2,0395
3,8426
5,8845


Sedang
0,38426
3,8426
2
2
2
4,079
7,6852
11,769


Berat
0,58845
5,8845
3
3
3
6,1185
11,5278
17,6535
3
Air Dalam Botol
Ringan
0,52317
5,2317
1
1
1
5,2317
9,5091
14,8335


Sedang
0,95091
9,5091
2
2
2
10,4634
19,0182
29,667


Berat
1,48335
14,8335
3
3
3
15,6951
28,5273
44,5005
4
Piring
Ringan
0,12479
1,2479
1
1
1
1,2479
2,4875
3,7349


Sedang
0,24875
2,4875
2
2
2
2,4958
4,975
7,4698


Berat
0,37349
3,7349
3
3
3
3,7437
7,4625
11,2047
5
Gelas
Ringan
0,15374
1,5374
1
1
1
1,5374
3,0653
4,5911


Sedang
0,30653
3,0653
2
2
2
3,0748
6,1306
9,1822


Berat
0,45911
4,5911
3
3
3
4,6122
9,1959
13,7733







4.2.Grafik
Gambar 1. Grafik hubungan Jarak dengan Usaha

Gambar 2. Grafik hubungan Gaya dengan Usaha


4.3. Hasil Perhitungan
1. kotak 
            Diketahui :
            mringan               : 0,12826 kg
            msedang              : 0,24939 kg
            mberat                : 0,38694 kg
            gravitasi           : 10 m/s2
            s1                     : 1 m
            s2                     : 2 m
            s3                     : 3 m
·         Gaya
F                      = m. g
a.       Ringan       = 0,12826 kg x 10 m/s2
                                    = 1,2826  N
b.      Sedang      = 0,24939 kg x 10 m/s2
                                    = 2,4939 N
c.       Berat         = 0,38694 kg x 10 m/s2
                                    = 3,8694 N
·         Usaha
W                    = F.s
a.       Ringan
W1             = 1,2826  N x 1 m
                                    = 1,2826  Joule
                   W2                = 1,2826 N x 2 m
                                    = 2,5652 Joule
W3                = 1,2826 N x 3 m
                                    = 3,8478 Joule
b.      Sedang
 W1            = 2,4939 N x 1 m
                                    = 2,4939 Joule
  W2             = 2,4939 N x 2 m
                                    = 4,9878 Joule
W3            = 2,4939 N x 3 m
                                    = 7,4817 Joule
c.       Berat        
W1             = 3,8694 N x 1 m
                                    = 3,8694 Joule
 W2              = 3,8694 N x 2 m
                                    = 7,7388 Joule
W3               = 3,8694 N x 3 m
                                    = 11,6082 Joule          

2.    Briket
            Diketahui :
            mringan                : 0,20395 kg
            msedang                   : 0,38426 kg
            mberat                : 0,58845 kg
            gravitasi           : 10 m/s2
            s1                            : 1 m
            s2                     : 2 m
            s3                            : 3 m
·         Gaya
F                      = m.g
a.       Ringan       = 0,20395 kg x 10 m/s2
                                    = 2,0395  N
b.      Sedang      = 0,38426 kg x 10 m/s2
                                    = 3,8426 N
c.       Berat         = 0,58845 kg x 10 m/s2
                                    = 5,8845 N
·         Usaha
W                       = F.s
a.       Ringan
W1                 = 2,0395 N x 1 m
                                    = 2,0395 Joule
                   W2            = 2,0395 N x 2 m
                                    = 4,079 Joule
W3            = 2,0395 N x 3 m
                                    = 6,1185 Joule
b.      Sedang     
 W1            = 3,8426 N x 1 m
                                    =3,8426 Joule
W2            =3,8426 N x 2 m
                                    = 7,6852 Joule
W3            = 3,8426 N x 3 m
                                    = 11,5278 Joule

c.       Berat 
 W1            = 5,8845 N x 1 m
                                    = 5,8845 Joule
                   W2            = 5,8845 N x 2 m
                                    = 11,769 Joule
W3            = 5,8845 N x 3 m
                                    = 17,6535 Joule
2.      Air Dalam Botol
Diketahui :
            mringan                :  0,52317 kg
            msedang                   : 0,95091 kg
            mberat                : 1,48335 kg
            gravitasi           : 10 m/s2
            s1                            : 1 m
            s2                     : 2 m
            s3                     : 3 m
·         Gaya
F                      =  m.g
a.         Ringan       = 0,52317 kg x 10 m/s2
                                    = 5,2317  N
b.      Sedang      = 0,95091 kg x 10 m/s2
                                    = 9,5091 N
c.       Berat         = 1,48335 kg x 10 m/s2
                                    = 14,8335 N
·         Usaha
W                       = F.s
a.       Ringan
 W1            = 5,2317 N x 1 m
                                    = 25,2317 Joule
                   W2            = 5,2317 N x 2 m
                                    = 10,4634 Joule
W3            = 5,2317 N x 3 m
                                    = 15,6951 Joule
b.      Sedang
 W1            = 9,5091 N x 1 m
                                    =9,5091 Joule
W2            =9,5091 N x 2 m
                                    = 19,0182 Joule
W3                = 9,5091 N x 3 m
                                    = 57,0546 Joule
c.       Berat 
 W1            = 14,8335 N x 1 m
                                    = 14,8335 Joule          
W2            = 14,8335 N x 2 m
                                    = 29,667 Joule
W3            = 14,8335 N x 3 m
                                    = 44,5005 Joule
3.      Piring
Diketahui :
            mringan                :  0,12479 kg
            msedang                   : 0,24875 kg
            mberat                : 0,37349 kg
            gravitasi           : 10 m/s2
            s1                            : 1 m
            s2                     : 2 m
            s3                     : 3 m
·         Gaya
F          =m.g
a.       Ringan       = 0,12479 kg x 10 m/s2
                                    = 1,2479 N
b.      Sedang      =  0,24875 kg x 10 m/s2
                                    = 2,4875 N
c.       Berat         = 0,37349 kg x 10 m/s2
                                    = 3,7349 N
·         Usaha 
W        = F.s   
a.       Ringan
W1                 = 1,2479 N x 1 m
                                    = 1,2479 Joule
                   W2            = 1,2479 N x 2 m
                                    = 2,4958 Joule
W3            = 1,2479 N x 3 m
                                    = 3,7437 Joule
b.      Sedang
W1            = 2,4875 N x 1 m
                                    = 2,4875 Joule
W2            = 2,4875 N x 2 m
                                    = 4,975 Joule
W3            = 2,4875 N x 3 m
                                    = 7,4625 Joule
c.       Berat 
 W1            = 3,7349 N x 1 m
                                    = 3,7349 Joule
                   W2            = 3,7349 N x 2 m
                                    = 7,4698 Joule
                   W3            = 3,7349 N x 3 m
                                    =  11,2047 Joule
4.      Gelas
Diketahui :
            mringan                :  0,15374 kg
            msedang                   : 0,30653 kg
            mberat                : 0,45911 kg
            gravitasi           : 10 m/s2
            s1                     : 1 m
            s2                            : 2 m
            s3                            : 3 m
·         Gaya
F                      = m.g
a.       Ringan       = 0,15374 kg x 10 m/s2
                                    = 1,5374 N
b.      Sedang      = 0,30653 kg x 10 m/s2
                                    = 3,0653 N
c.       Berat         = 1,48335 kg x 10 m/s2
                                    = 14,8335 N
·         Usaha
W                    = F.s
a.       Ringan
 W1            = 1,5374 N x 1 m
                                    = 1,5374 Joule
                   W2            = 1,5374 N x 2 m
                                    = 3,0748Joule
W3            = 1,5374 N x 3 m
                                    = 4,6122 Joule
b.      Sedang
 W1            = 3,0653 N x 1 m
                                    = 3,0653  Joule
W2            = 3,0653 N x 2 m
                                    = 6,1306 Joule
W3            = 3,0653 N x 3 m
                                    = 9,1959 Joule
c.       Berat 
 W1            = 14,8335 N x 1 m
                                    = 14,8335 Joule          
W2            = 14,8335 N x 2 m
                                    = 29,667 Joule
W3            = 14,8335 N x 3 m
                                    = 44,5005 Joule
5.      Piring
Diketahui :
            mringan                :  0,12479 kg
            msedang                   : 0,24875 kg
            mberat                : 0,37349 kg
            gravitasi           : 10 m/s2
            s1                     : 1 m
            s2                     : 2 m
            s3                     : 3 m
·         Gaya
F                      = m.g
a.       Ringan       = 0,12479 kg x 10 m/s2
                                    = 1,2479 N
b.      Sedang      = 0,24875 kg x 10 m/s2
                                    = 2,4875 N
c.       Berat         = 0,45911 kg x 10 m/s2
                                    = 4,5911 N
·         Usaha
W                    = F.s
a.       Ringan
 W1            = 1,2479 N x 1 m
                                    = 1,2479 Joule
                   W2            = 1,2479 N x 2 m
                                    = 2,4958 Joule
W3            = 1,2479 N x 3 m
                                    = 3,7437 Joule
b.      Sedang
 W1           = 2,4875 N x 1 m
                                    = 2,4875 Joule
W2            = 2,4875 N x 2 m
                                    = 4,975 Joule
W3            = 2,4875 N x 3 m
                                    = 7,4625 Joule
c.       Berat 
 W1            =  4,5911 N x 1 m
                                    = 4,5911 Joule
                   W2            = 4,5911 N x 2 m
                                    = 9,1822 Joule
W3            = 4,5911 N x 3 m
                                    =  13,7733 Joule



BAB V
PEMBAHASAN
Usaha atau kerja adalah suatu kemampuan untuk melakukan sebuah perubahan. Entah itu perubahan jarak perpindahan benda tersebut ataupun bentuk lainnya. Untuk melakukan suatu usaha diperlukan sebuah energi, dimana energi ini akan menimbulkan sebuah dorongan kepada suatu benda untuk berpindah dalam jarak tertentu.
Percobaan kali ini adalah memindahkan briket, piring, air dalam botol, kotak dan gelas dalam variasi 3 jarak, yaitu 1, 2 dan 3 meter. Variasi massa benda yang dipindahkan 3 variasi, yaitu ringan, sedang dan berat. Benda pertama yang dipindahkan adalah kotak, dengan  massa ringan sebesar 0,12826 kg, gaya sebesar 1,2826 N dan usaha yang tercipta paling besar adalah pada saat jarak 3 m, yaitu 3,8478 J. Percobaan selanjutnya adalah kotak dengan massa sedang yaitu sebesar 0,24939 kg, gaya sebesar 2,4939 N dan usaha yang tercipta paling besar adalah pada saat jarak 3 m, yaitu sebesar 7,4817 J. Percobaan selanjutnya adalah kotak dengan massa berat yaitu sebesar 0,38694 kg, gaya sebesar 3,8694 N dan usaha yang tercipta paling besar adalah pada saat jarak 3 m, yaitu sebesar 11,6082 J.
Benda kedua yang dipindahkan adalah briket dengan  massa ringan sebesar 0,20395 kg, gaya sebesar 2,0395 N dan usaha yang tercipta paling besar adalah pada saat jarak 3 m, yaitu 6,1185 J. Percobaan selanjutnya adalah briket dengan massa sedang yaitu sebesar 0,38426 kg, gaya sebesar 3,8426 N dan usaha yang tercipta paling besar adalah pada saat jarak 3 m, yaitu sebesar 7,4817 J. Percobaan selanjutnya adalah kotak dengan massa berat yaitu sebesar 0,58845 kg, gaya sebesar 5,8845 N dan usaha yang tercipta paling besar adalah pada saat jarak 3 m, yaitu sebesar 17,6535 J.
Benda ketiga yang dipindahkan adalah air dalam botol dengan  massa ringan sebesar 0,52317 kg, gaya sebesar 5,2317 N dan usaha yang tercipta paling besar adalah pada saat jarak 3 m, yaitu 15,6951 J . Percobaan selanjutnya adalah air dalam botol dengan massa sedang yaitu sebesar 0,95091 kg, gaya sebesar 9,5091 N dan usaha yang tercipta paling besar adalah pada saat jarak 3 m, yaitu sebesar 28,5273 J. Percobaan selanjutnya adalah air dalam botol dengan massa berat yaitu sebesar 1,48335 kg, gaya sebesar 14,8335 N dan usaha yang tercipta paling besar adalah pada saat jarak 3 m, yaitu sebesar 44,5005 J.
Benda keempat yang dipindahkan adalah piring dengan  massa ringan sebesar 0,12479 kg, gaya sebesar 1,2479 N dan usaha yang tercipta paling besar adalah pada saat jarak 3 m, yaitu 3,7437 J . Percobaan selanjutnya adalah piring dengan massa sedang yaitu sebesar 0,24875 kg, gaya sebesar 2,4875 N dan usaha yang tercipta paling besar adalah pada saat jarak 3 m, yaitu sebesar 7,4625 J. Percobaan selanjutnya adalah piring dengan massa berat yaitu sebesar 0,37349 kg, gaya sebesar 3,7349 N dan usaha yang tercipta paling besar adalah pada saat jarak 3 m, yaitu sebesar 11,2047 J.
Benda kelima yang dipindahkan adalah gelas dengan  massa ringan sebesar 0,15374 kg, gaya sebesar 1,5374 N dan usaha yang tercipta paling besar adalah pada saat jarak 3 m, yaitu 4,6122 J. Percobaan selanjutnya adalah gelas dengan massa sedang yaitu sebesar 0,30653 kg, gaya sebesar 3,0653 N dan usaha yang tercipta paling besar adalah pada saat jarak 3 m, yaitu sebesar 9,1959 J. Percobaan selanjutnya adalah gelas dengan massa berat yaitu sebesar 0,45911 kg, gaya sebesar 4,5911 N dan usaha yang tercipta paling besar adalah pada saat jarak 3 m, yaitu sebesar 13,7733 J.
Usaha yang paling besar pada semua percobaan ini adalah pada saat keadaan massa berat dan jarak perpindahan yang paling jauh, yaitu 3 m . Hal itu bisa dilihat dari data yang didapat saat dilakukan percobaan terhadap briket, piring, kotak, air dalam botol dan gelas dengan keadaan massa berat dan jarak perpindahan benda yang paling jauhlah tercipta usaha yang paling besar daripada jarak yg ditempuh sebelumnya. Dengan mengacu pada hasil percobaan, maka faktor yang mempengaruhi besar kecilnya sebuah usaha sangat dipengaruhi oleh massa benda dan jarak perpindahan yang akan ditempuh.
Secara umum, besar atau kecilnya usaha dipengaruhi oleh gaya yang tercipta, massa dari benda tersebut serta seberapa jauh jarak yang akan ditempuh untuk memindahkan benda tersebut, sehingga besar usaha berbanding lurus dengan gaya dan jarak. Faktor lain yang mempengaruhi besar kecilnya usaha adalah jenis kelamin, yaitu laki-laki atau wanita. Pada umumnya tenaga laki-laki lebih besar daripada wanita, sehingga wanita memerlukan energi yang lebih banyak untuk memindahkan sesuatu daripada laki-laki.



























BAB VI
PENUTUP
6.1. Kesimpulan
Dari hasil pengamatan dan pembahasan pada praktikum ini dapat ditarik beberapa kesimpulan, yaitu :
1.             Usaha atau kerja adalah suatu kemampuan untuk melakukan sebuah perubahan.
2.             Besarnya gaya tergantung pada massa benda dan gravitasi, sedangkan besarnya usaha tergantung besarnya gaya dan perpindahan benda tersebut.
3.             Gaya yang paling besar dilakukan pada berbagai sample percobaan yaitu pada variasi massa berat berturut-turut, kotak dengan gaya sebesar 3,8694 N, briket 5,8845 N, air dalam botol 14,8835 N dan gelas 4,5911 N.
4.             Usaha yang paling besar dilakukan pada berbagai sample percobaan yaitu pada variasi massa berat berturut-turut , kotak dengan usaha sebesar 11,6082 J, briket 17,6535 J, air dalam botol 44,5005 J, piring 11,3247 J dan gelas 13,7732 J.
5.             Faktor yang mempengaruhi besar kecilnya suatu usaha adalah massa benda, besar gaya yang diberikan dan jarak perpindahan yang ditempuh.
6.2. Saran
            Saran yang dapat diberikan penulis adalah usahakan praktikum atau percobaan dilakukan pada rungan yang terpisah dengan praktikum atau percobaan lain, sehingga praktikan bisa lebih berkonsentrasi dalam melakukan praktikum atau percobaan.








BAB I
PENDAHULUAN
1.1.   Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari sering terlihat benda- benda yang  mengalami gerak jatuh bebas, misalnya gerak buah yang jatuh dari pohonnya. Benda tersebut seolah-olah  memiliki kecepatan yang tetap atau dengan kata lain  benda tersebut tidak mengalami percepatan. Kenyataan yang terjadi setiap benda yang jatuh bebas mengalami percepatan tetap. Dalam hal ini gerak jatuh bebas merupakan benda yang mengakibatkan benda melewati  lintasan berbentuk  lurus karena pengaruh gaya gravitasi bumi. Gerak jatuh bebas juga merupakan salah satu bentuk gerak lurus dalam satu dimensi  yang hanya dipengaruhi oleh adanya percepatan gravitasi bumi.
Aristoteles menganggap bahwa benda yang massanya lebih besar jatuh lebih cepat daripada benda yang lebih ringan dan bahwa laju jatuh benda sebanding dengan massa benda tersebut. Untuk membuktikan teori mengenai gerak jatuh bebas tersebut, maka diadakan praktikum ini yang akan membahas tentang percepatan gravitasi bola pada gerak jatuh bebas, serta hubungan antara waktu  dengan ketinggian pada gerak jatuh bebas.
1.2   Tujuan
            Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui nilai Energi Potensial, Energi Kinetik, dan Energi Mekanik beberapa benda yang berbeda.



 

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian Gerak Jatuh bebas
Gerak jatuh  jatuh bebas adalah gerak yang mengakibatkan benda melewati lintasan berbentuk lurus karena pengaru gaya gravitasi bumi. Gerak jatuh bebas mengakibatkan gesekan dan perubahan kecil percepatan terhadap ketinggian. Percepatan gerak jatuh bebas disebabkan oleh gaya gravitasi bumi yang besarnya 9,8 m/s2 dan berarah menuju ke pusat bumi. Gesekan yang dimaksud disini adalah gsekan antara benda dan udara. Suatu benda yang dijatuhkan dari ketinggian tertentu dalam ruang terbuka akan diperlambat akibat gaya gesekan dan laju udara, pada percepatan gerak jatuh bebas seiring ditemukan bahwa haasil percepatan yang dialami benda tidak seuai dengan hasil percepatan gravitasi bumi, hal tersebut terjadi karena sesungguhnya benda tersebut telah mengalami pelambatan oleh gaya gesek udara. Percepatan yang dialami benda pada gerak jatuh bebas akan sama dengan percepatan gravitasi bila benda tersebut dijatuhkan pada ruang hampa udara (Pantur, 2009).
1.2.   Gerak Lurus Bebas Beraturan
Gerak lurus berubah beraturan  adalah gerak benda dengan lintasan garis lurus dan memiliki kecepatan setiap saat berubah dengan teratur.  Pada gerak lurus berubah beraturan gerak benda dapat mengalami  percepatan atau peralambatan. Gerak benda yang mengalami percepatan disebut gerak lurus berubah beraturan dipercepat, sedangkan gerak lurus yang mengalami perlambatan disebut gerak lurus berubah beraturan diperlambat. Suatu benda melakukan gerak lurus berubah beraturan (GLBB) jika percepatannya selalu konstan. Percepatan merupakan besaran vektor (besran yang mempunyai besar dan arah). Percepatan konstan berarti besar dan arah percepatan selalu konstan setiap saat (Sasrawan, 2013).

1.3 Energi Potensial
           Energi potensial adalah energi yang dimiliki benda karena posisinya (kedudukan) terhadap suatu acuan. Sebagai contoh sebuah batu yang kita angkat pada ketinggian tertentu memiliki energi potensial, jika batu kita lepas maka batu akan melakukan kerja yaitu bergerak ke bawah atau jatuh. Jika massa batu lebih besar maka energi yang dimiliki juga lebih besar, batu yang memiliki energi potensial ini karena gaya gravitasi bumi, energi ini disebut energi potensial bumi. Energi potensial bumi tergantung pada massa benda, gravitasi bumi dan ketinggian benda. Sehingga dapat dirumuskan Ep = m.g.h. dimana : Ep = Energi potensial, m = massa benda, g = gaya gravitasi, dan h = tinggi benda (Iskandar,2014).
1.4 Energi Kinetik
Energi kinetik adalah energi yang dimiliki benda karena geraknya. Makin besar kecepatan benda bergerak makin besar energi kinetiknya dan semakin besar massa benda yang bergerak makin besar pula energi kinetik yang dimilikinya.
Secara matematis dapat dirumuskan : Ek = 1/2 ( m.v2 ) dimana Ek = Energi kinetik, m = massa benda, dan v = kecepatan benda. Pada saat benda bergerak jatuh, tingginya berkurang dan kecepatannya bertambah. Dengan demikian, energi potensialnya berkurang, tetapi energi kinetiknya bertambah (Hamidah,2009).
1.5 Energi Mekanik
Energi mekanik adalah energi yang dimiliki suatu benda karena sifat geraknya. Energi mekanik terdiri dari energi potensial dan energi kinetik.
Secara matematis dapat dituliuskan : Em = Ep + Ek, dimana Em = Energi Mekanik (
Tryabbabling, 2011).


BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM



3.1. Waktu dan Tempat Praktikum
            Praktikim ini dilaksanakan pada hari Selasa,19 Januari 2016, di Laboratoriun Teknik Konservasi dan Lingkungan Pertanian, Lantai II dan Lantai III Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri,Universitas Mataram.
3.2. Alat dan Bahan Praktikum
3.2.1. Alat-alat Praktikum
Adapun alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah timbangan digital, roll meter, dan stopwatch.
3.2.2. Bahan-bahan Praktikum
Adapun bahan-bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah bola pimpong, kelereng, bola bekel, daun, dan kertas HVS.
3.3 Posedur Kerja
Adapun prosedur kerjanya adalah sebagai berikut :
1. Disiapkan bahan-bahan yang akan dihitung gerak jatuh bebasnya.
2. Ditimbang semua bahan pada timbangan digital.
3. Dicatat berat dari masing-masing bahan pada kertas label, kemudian tempelkan kertas label tersebut pada semua bahan.
4. Diukur ketinggian yang akan digunakan untuk gerak jatuh bebas bahan menggunakan roll meter, dan gunakan stopwatch untuk mengetahui berapa detik waktu yang dibutuhkan untuk benda tersebut jatuh.
5. Jatuhkan satu persatu kelima bahan tersebut dari ketinggian 2,47 m, 5,50 m, dan 9,86 m. Kemudian catat hasilnya pada tabel pengamatan.




BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN
4.1 Hasil Pengamatan
Tabel hasil pengamatan gerak jatuh bebas
No
Jenis Benda
Massa (Kg)
h (m)
t (s)
V (m/s)
EP (J)
EK (J)
EM (J)
1
Bola pimpong
0,00231
2,47
0,58
4,25
0,0559
0,0208
0,0767
5,5
0,91
6,04
0,1245
0,0421
0,1666
9,86
1,73
5,69
0,2232
0,0373
0,2605
2
Kelereng
0,00535
2,47
0,52
4,75
0,1295
0,0603
0,1898
5,5
0,87
6,32
0,2883
0,1068
0,3951
9,86
2,09
4,71
0,5169
0,0593
0,5762
3
Bola bekel
0,03567
2,47
0,52
4,75
0,8634
0,4024
1,2658
5,5
0,7
7,85
1,9226
1,099
3,0216
9,86
1,17
8,42
3,4467
1,2644
4,7111
4
Daun
0,0122
2,47
1
2,47
0,2953
0,0372
0,3325
5,5
2,38
2,31
0,6575
0,0325
0,69
9,86
3,96
2,48
1,1788
0,0375
1,2163
5
Kertas HVS
0,00471
2,47
2
1,23
0,114
0,0035
0,1175
5,5
5,15
1,06
0,2538
0,0026
0,2564
9,86
6,64
1,48
0,4551
0,0051
0,4602

4.2. Grafik
Gambar 3. Grafik hubungan Kecepatan dan Waktu

4.3. Hasil Perhitungan
Rumus :           Energi Potensial (EP)  = m.g.h
Energi Kinetik   (EK)  =  mv2           
Energi Mekanik (EM)  = EP + EK
Keterangan :    m = massa (kg)
g  = gravitasi (9,8 m/s2)
h = ketinggian (m)
V = kecepatan (m/s)
Diketahui:       h1 = 2.47 m
            h2 = 5.5 m
            h3 = 9.86 m

1.    Bola Pimpong
Diketahui: massa     = 0.00231 kg
                  waktu 1 = 0.58 sekon
                 waktu 2 = 0,91 sekon
                 waktu 3 = 1.73 sekon
a.         Kecepatan
Ø kecepatan 1
Ø kecepatan 2
Ø kecepatan 3
b.        Energi Potensial (EP)
EP = m.g.h
Ø Energi potensial 1

Ø Energi potensial 2
Ø Energi potensial 3
c.         Energi Kinetik (EK)
EK =  mv2
Ø Energi kinetik 1
Ø Energi kinetik 2
Ø Energi kinetik 3
d.        Energi Mekanik (EM)
EM = EP + EK
Ø Energi mekanik 1
Ø Energi Mekanik 2
Ø Energi Mekanik 3
2.        Kelereng
Diketahui:       massa     = 0.00535 kg
                        waktu 1 = 0.52 sekon
waktu 2 = 0.87 sekon
waktu 3 = 2,09 sekon
a.         Kecepatan
Ø kecepatan 1
Ø kecepatan 2
Ø kecepatan 3
b.        Energi Potensial (Ep)
       EP = m.g.h
Ø Energi potensial 1
Ø  Energi potensial 2
Ø Energi potensial 3
c.         Energi Kinetik (EK)
       EK =  mv2
Ø Energi kinetik 1
Ø Energi kinetik 2
Ø Energi kinetik 3
d.        Energi Mekanik (EM)
       EM = EP + EK
Ø Energi mekanik 1
Ø Energi Mekanik 2
Ø Energi Mekanik 3
3.        Bola Bekel
Diketahui:   massa     = 0,03567 kg
waktu 1 = 0.52 sekon
waktu 2 = 0.7 sekon
waktu 3 = 1,17 sekon
a.         Kecepatan
Ø kecepatan 1
Ø kecepatan 2
Ø kecepatan 3
b.        Energi Potensial (EP)
       EP = m.g.h
Ø  Energi potensial 1
Ø  Energi potensial 2
Ø  Energi potensial 3
c.         Energi Kinetik (EK)
       EK =  mv2
Ø  Energi kinetik 1
Ø  Energi kinetik 2
Ø  Energi kinetik 3
d.        Energi Mekanik (EM)
       EM = EP + EK
Ø  Energi mekanik 1
Ø  Energi Mekanik 2
Ø  Energi Mekanik 3
4.        Daun
Diketahui:   massa     = 0,0122 kg
waktu 1 = 1 sekon
waktu 2 = 2,38 sekon
waktu 3 = 3,96 sekon
a.         Kecepatan
Ø  kecepatan 1
Ø kecepatan 2
Ø kecepatan 3
b.        Energi Potensial (EP)
       EP = m.g.h
Ø  Energi potensial 1
Ø  Energi potensial 2
Ø  Energi potensial 3
c.         Energi Kinetik (EK)
       EK =  mv2
Ø  Energi kinetik 1
Ø  Energi kinetik 2
Ø  Energi kinetik 3
d.        Energi Mekanik (EM)
       EM = EP + EK
Ø  Energi mekanik 1
Ø  Energi Mekanik 2
Ø  Energi Mekanik 3
5.        Kertas  HVS
Diketahui:   massa     = 0,00471 kg
waktu 1 =2sekon
waktu 2 = 5,15 sekon
waktu 3 = 6,64 sekon
a.         Kecepatan
Ø  kecepatan 1
Ø kecepatan 2
Ø kecepatan 3
b.        Energi Potensial (EP)
       EP = m.g.h
Ø  Energi potensial 1
Ø  Energi potensial 2
Ø  Energi potensial 3
c.         Energi Kinetik (EK)
       EK =  mv2
Ø  Energi kinetik 1
Ø  Energi kinetik 2
Ø  Energi kinetik 3
d.        Energi Mekanik (EM)
       EM = EP + EK
Ø  Energi mekanik 1
Ø  Energi Mekanik 2
Ø  Energi Mekanik 3

BAB V
PEMBAHASAN

Gerak jatuh bebas adalah gerak jatuh benda pada arah vertikal dari ketinggian h tertentu tanpa kecepatan awal, sehingga berat benda hanya dipengaruhi oleh grafitasi bumi. Semakin kebawah gerak suatu benda maka semakin cepat. Percepatan yag diamati oleh setiap benda sama, yakni sama dengan percepatan gravitasi bumi yaitu 9,8 m/s2. Gaya grafitasi yang dialami oleh suatu benda pada ketinggian yang berbeda akan dan akan dipengaruhi oleh waktu yang dibutuhkan benda itu untuk melakukan gerak jatuh bebas hingga mencapai permukaan bumi. Hal ini merupakan suatu peristiwa alam yang menunjukkan bahwa setiap benda yang dilepaskan dari suatu ketinggian atau dilemparkan keatas benda tersebut akan jatuh menuju pusat bumi. Ini disebabkan oleh adanya gaya tarik bumi.
Pada praktikum ini, dilakukan 3 kali percobaan gerak jatuh bebas pada 5 benda yang berbeda,dimana masing-masing benda tersebut memiliki massa, kecepatan, energi potensial, energi kinetik, dan energi mekanik yang berdeda-beda. Energi potensial adalah energi yang didasarkan pada kedudukannyaa atau ketinggiannya. Energi kinetik adalah energi yang didasarkan pada kecepatan bergeraknya. Energi mekanik adalah hasil dari energi potensial yang ditambahkan dengan energi kinetik.
Percobaan pertama dilakukan pada ketinggian 2,47 m, Percobaan kedua dilakukan pada ketinggian 5,50  m, dan Percobaan ketiga dilakukan pada ketinggian 9,86 m. Kecepatan jatuh masing-masing benda adalah berbeda,hal ini disebabkan karena adanya perbedaan berat dari masing-masing benda,jika benda yang di jatuhkan massanya lebih berat,maka benda tersebut akan lebih cepat jatuh dibandingkan dengan benda yang lain.
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan,maka didapatkan benda yang mempunyai nilai EP, EK, dan EM tertinggi adalah bola bekel, yaitu EP = 3,4467, EK = 1,2644, dan EM = 4,711. Bola bekel ini jatuh dengan kecepatan 8,42 m/s2 pada ketinggian 9,86 m, dan dalam waktu 1,17 sekon. Bola bekel mempunyai nilai EP, EK, dan EM teringgi disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah kecepatan jatuh bola bekel, dan massa dari bola bekel yang paling berat dari ke-empat benda lainnya,sehingga menyebabkan bola bekel tersebut lebih cepat jatuh ke tanah. Untuk data selengkapnya bisa dilihat pada bab 4.









































BAB VI
PENUTUP
6.1. Kesimpulan
            Berdasarkan hasil pengamatan, perhitungan dan pembahasan dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1          Gerak jatuh bebas adalah gerak jatuh benda pada arah vertikal dari ketinggian h tertentu tanpa kecepatan awal
2          Energi Potensial adalah energi suatu benda yang didasarkan pada ketinggian atau kedudukannya
3          Energi Kinetik adalah energi yang didasarkan pada kecepatan bergeraknya.
4          Energi mekanik adalah hasil dari energi potensial yang ditambahkan dengan energi kinetik.
5          Nilai tertinggi EP, EK, dan EM pada ke lima benda tersebut adalah bola bekel, dengan nilai EP = 3,4467, EK = 1,2644, dan EM = 4,711. Bola bekel ini jatuh dengan kecepatan 8,42 m/s2 pada ketinggian 9,86 m, dan dalam waktu 1,17 sekon.
6.2 Saran
Sebaiknya praktikan lebih tertib ketika melaksankan praktikum.


BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Tekanan adalah satuan fisika untuk menyatakan gaya per satuan luas. Satuan tekanan sering digunakan untuk mengukur kekuatan dari suatu cairan atau gas. Satuan tekanan dapat dihubungkan dengan satuan volume dan suhu. Semakin tinggi tekanan di dalam suatu tempat dengan volume yang sama, maka suhu akan semakin tinggi. Hal ini dapat digunakan untuk menjelaskan mengapa suhu di pegunungan lebih rendah dari pada di dataran rendah, karena di dataran rendah tekanan lebih tinggi.
Dalam tekanan hidrostatsis dikenal kapilarias. Kapilaritas diartikan sebagai gejala naiknya zat cair melalui celah sempit atau pipa rambut. Celah sempit atau pipa rambut disebut sebagai pipa kapiler. kapilaritas disebabkan oleh adanya gaya adhesi dan gaya kohesi antara zat cair dengan dinding pipa kapiler sehingga jika pembuluh kaca masuk ke dalam zat cair menyebabkan permukanan zat cair menjadi tidak rata atau tidak sama. Oleh karena itu penting kiranya dilakukan praktikum ini untuk mengetahui tekanan terhadap berbagai zat. Oleh karena itu penting kiranya dilakukan praktikum ini untuk mengetahui tekanan hidrostatis berbagai jenis cairan dengan ketinggian dan diameter yang berbeda.
1.2. Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui pengaruh diameter pipa terhadap tekanan hidrostatis, pengaruh jenis cairan terhadap tekanan hidrostatis dan pengaruh ketinggian yang dicapai fluida terhadap tegangan permukaan.








 
BAB II
       TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Tekanan
            Tekanan merupakan suatu ukuran yang terdiri dari besarnya gaya yang bekerja pada suatu benda untuk setiap satu satuan luas permukaan bidang tekan. Tekanan dapat dinotasikan sebagai simbolp (pressure) dan memiliki satuan SI Nnr2. Satuan tekanan yang lain adalah pascal (Pa) dan bar. Tekanan udara merupakan tenaga yang bekerja untuk menggerakkan massa udara dalam setiap satuan luas tertentu. Diukur dengan menggunakan barometer. Satuan tekanan udara adalah milibar (mb). Garis yang menghubungkan tempat-tempat yang sama tekanan udaranya disebut sebagai isobar.  Tekanan udara dapat diukur dengan menggunakan barometer. Tekanan Hidrostatis adalah tekanan yang terjadi di bawah air. Tekanan ini terjadi karena adanya berat air yang membuat cairan tersebut mengeluarkan tekanan. Tekanan sebuah cairan bergantung pada kedalaman cairan di dalam sebuah ruang dan gravitasi juga menentukan tekanan air tersebut (Leonheart, 2011).
2.2. Kapilaritas
Kapilaritas adalah gejala naik atau turunnya permukaan zat cair pada pipa kapiler (pembuluh yang sempit). Ternyata permukaan air pada pipa kapiler lebih tinggi dari pada permukaan air pada bejana A. Sedangkan permukaan air raksa pada pipa kapiler lebih rendah dari pada permukaan air raksa pada bejana B. Semakin kecil diameter pipa kapiler ternyata mengakibatkan semakin tinggi permukaan zat cair pada pipa kapiler untuk zat yang membasahi dinding tabung, atau semakin rendah permukaan zat cair pada pipa kapiler untuk zat yang tidak membasahi dinding. Peristiwa naik atau turunnya zat cair di dalam pipa kapiler ini yang disebut dengan efek kapilaritas (Sangdedi, 2010).


2.3. Adhesi dan Kohesi
Adhesi adalah gaya tarik menarik antara partikel partikel yang tidak sejenis. Gaya adhesi akan mengakibatkan dua zat akan saling melekat bila dicampurkan. Contohnya : Bercampurnya air dengan teh/kopi, melekatnya air pada dinding pipa kapiler, melekatnya tinta pada kertas dll. Kohesi adalah gaya tarik menarik antara partikel partikel yang sejenis. Kohesi dipengaruhi oleh kerapatan dan jarak antarpartikel dalam zat. Dengan demikian, kamu pasti tahu bahwa gaya kohesi zat padat lebih besar dibandingkan dengan zat cair dan Gaya kohesi mengakibatkan dua zat bila dicampurkan tidak akan saling melekat. Contoh peristiwa kohesi adalah tidak bercampurnya air dengan minyak, tidak melekatnya air raksa pada dinding pipa kapiler, dan air pada daun talas (Kanginan, 2007).
2.4. Tegangan Permukaan
Tegangan permukaan zat cair merupakan kecenderungan permukaan zat cair untuk menegang, sehingga permukaannya seperti ditutupi oleh suatu lapisan elastic. Selain itu, tegangan permukaan juga diartikan sebagai suatu kemampuan atau kecenderungan zat cair untuk selalu menuju ke keadaan yang luas permukaannya lebih kecil yaitu permukaan datar atau bulat seperti bola atau ringkasnya didefinisikan sebagai usaha yang membentuk luas permukaan baru. Dengan sifat tersebut zat cair mampu untuk menahan benda-benda kecil di permukaannya. Seperti silet, berat silet menyebabkan permukaan zat cair sedikit melengkung ke bawah tampak silet itu berada. Lengkungan itu memperluas permukaan zat cair namun zat cair dengan tegangan permukaannya berusaha mempertahankan luas permukaan-nya sekecil mungkin. (Pantur. 2009)
2.5 Air dan Minyak
            Air dan minyak mempunyai viskositas atau kekentalan masing-masing. Air akan lebih cair dibandingkan dengan minyak. Massa jenis atau kerapatan suatu fluida dapat bergantung pada banyak faktor seperti temperatur fluida dan tekanan yang mempengaruhi fluida. Akan tetapi pengaruhnya sangat sedikit sehingga massa jenis suatu fluida dinyatakan sebagai konstanta/bilangan tetap. Massa jenis atau rapat massa (ρ) adalah suatu besaran turunan yang diperoleh dengan membagi massa suatu benda atau zat dengan volumnya. (Sasrawan,2013)







2.4. 
BAB III
METODELOGI PRAKTIKUM
3.1. Waktu dan Tempat Praktikum
            Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasa, 19 Januari 2016 di Laboratorium Teknik Bioproses Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri Universitas Mataram.
3.2. Alat dan Bahan Praktikum
3.2.1. Alat-alat Praktikum
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalahgelas mineral, pipet air besar, pipet air kecil dan penggaris.
3.2.2. Bahan-bahan Praktikum
Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah air dan minyak.
3.3. Prosedur Kerja
            Adapun prosedur kerja dalam praktikum ini adalaha sebagai berikut:
1.        Disiapkan semua alat dan bahan praktikum.
2.        Diukur diameter pipet kecil dan pipet besar
3.        Dimasukkan pipet kecil kedalam air yang berada di gelas mineral dan diukur perubahannya.
4.        Dimasukkan pipet besar kedalam air yang berada di gelas mineral dan diukur perubahannya.
5.        Dimasukkan pipet kecil kedalam minyak yang berada digelas mineral dan diukur perubahannya.
6.        Dimasukkan pipet besar kedalam minyak yang berada di gelas mineral dan diukur perubahannya.



BAB IV
HASIL PENGAMATAN
4.1.   Hasil Pengamatan
a.       Mengetahui pengaruh diameter pipa terhadap p hidrostatis.
No
Diameter pipa (m)
Tinggi (m)
Massa Jenis (kg/m3)
Tekanan (Pa)
1
0,006
0,002 (-)
1000
19,6
2
0,008
0,001 (-)
1000
9,8

a.       Mengetahui pengaruh jenis cairan terhadap tekanan hidrostatis.
No
Jenis cairan
Massa Jenis (kg/m3)
Tinggi (m)
Diameter (m)
Tekanan (Pa)
1
Air
1000
0,002 (-)
0,006
19,6
2
Minyak
920
0,001 (-)
0,006
9,016

b.      Mengetahui pengaruh ketinggin yang dicapai fluida terhadap tegangan permukaan.
No
Jenis Cairan
Massa Jenis (kg/m3)
Jari-Jari (m)
Gravitasi
(m/s2)
Tinggi
(m)
Tegangan
(kg/s)
1
Air
1000
0,003
9,8
0,002 (-)
2,94 x 10-2
2
Minyak
920
0,003
9,8
0,001 (-)
1,35 x 10-2
Keterangan : (-) Menentukan Perubahan Tinggi Cairan Terhadap Pipet
4.2.Grafik
Gambar 5. Grafik hubungan Tekanan dengan Diameter

Gambar 6. Grafik hubungan Tekanan dengan Jenis Cairan

Gambar 7. Grafik hubungan Tegangan dengan Ketinggian

4.3 Hasil Perhitungan
Diketahui :    ρ air                 = 1000 kg/m3
                      ρ minyak         = 920kg/m3
                      g                      = 9,8 m/s
a. untuk pipa kecil
Diketahui :    d                      =  0,006 m
                      r                       = 0,003 m
                      h                      = (-) 0,002 m
b. untuk pipa besar
Diketahui :      d                      = 0,008 m
                        r                       = 0,004 m
                        h                      = (-) 0,001 m
Ditanyakan      : Tekanan (P) dan Regangan (Y)
Rumus             :
                      P = ρ.g.h
                      Y =
Penyelesaian :
1.        Pengaruh diameter pipa terhadap tekanan hidrostatis
a.       Pipet kecil
P = 1000 x 9,8 x 0,002
   = 19,6 Pa
b.      Pipet besar
P = 1000 x 9,8 x 0,001
   = 9,8 Pa
2.        Pengaruh jenis cairan terhadap tekanan hidrostatis
a.       Air
                               P = 1000 x 9,8 x 0,002
                                  = 19,6 Pa
b.      Minyak goreng
P = 920 x 9,8 x 0,001 
   = 9,016 Pa
3.        Pengaruh ketinggian terhadap tekanan hidrostatis
a.         Air
Y =
  = 2,94 x 10-2 kg/s
b.        Minyak goreng
Y =
              = 1,35 x 10-2 kg/s




BAB V
PEMBAHASAN
Kapilaritas kapilaritas diartikan sebagai gejala naiknya zat cair melalui celah sempit atau pipa rambut. Celah sempit atau pipa rambut disebut sebagai pipa kapiler. kapilaritas disebabkan oleh adanya gaya adhesi dan gaya kohesi antara zat cair dengan dinding pipa kapiler sehingga jika pembuluh kaca masuk ke dalam zat cair menyebabkan permukanan zat cair menjadi tidak rata atau tidak sama.
Pada praktikum didapatkan nilai tekanan 19,6 Pa pada diameter pipet kecil dan 9,8 Pa pada diameter pipet besar.  Pada praktikum ini perbandingan massa jenis (ρ) minyak dan air berbeda, hal ini disebabkan karena massa jenis minyak lebih rendah dari pada massa jenis air. Massa jenis air 1 gram/cm3 dan massa jenis minyak 0,8 gram/cm3. Oleh karena itu, berapapun banyaknya minyak yang dicampurkan ke dalam air maka minyak akan tetap di atas. Takanan hidrostatis air diperoleh sebesar 19,6 Pa sedangkan takanan hidrostatis minyak sebsar 9,016 Pa. Selain itu didapatkan lamda untuk air sebesar 2,94 x 10-2 kg/m dan untuk minyak sebesar 1,35 x 10-2 kg/m.
Faktor yang mempengaruhi tekanan hidrostatis Massa jenis atau kerapatan suatu fluida dapat bergantung pada banyak faktor seperti temperatur fluida dan tekanan yang mempengaruhi fluida. Akan tetapi pengaruhnya sangat sedikit sehingga massa jenis suatu fluida dinyatakan sebagai konstanta/bilangan tetap. Massa jenis atau rapat massa (ρ) adalah suatu besaran turunan yang diperoleh dengan membagi massa suatu benda atau zat dengan volumnya.
Faktor yang mempengaruhi tekanan hidrostatis selanjutnya yaitu gaya gravitasi bumi. Gaya garviatsi bumi yang umum disepakati yaitu 10 m/s2 atau 9,8 m/s2. Semakin tinggi pipa kapiler maka tekanan fluida akan semakin besar, kerena pengaruh gaya gravitasi yang besar. Tekana hidrostatis air pada ketinggian 0,002 cm yaitu 2,94 x 10-2 m, sedangkan tekanan hidrostatik minyak goreng pada ketinggian 0,001 cm yaitu 1,35 x 10-2 m.Begitupun dengan diameter pipa kapiler, semakin kecil diameter pipa maka kecepatan fluida akan semakin cepat dan tekanan semakin besar. Hal tersebut berbeda jika diameter pipa basar maka kecepatan fluida juga kecil karena tekanan fluida yang rendah. Pada pengaruh diemeter pipa yang kecil diperoleh tekanan hidrostatis sebesar 19,6 Pa, sedangkan untuk pipa yang besar diperoleh tekanan hidrostatis sebesar 9,8 Pa
Gaya adhesi dan gaya kohesi juga berpengaruh terhadap tekanan hidroostatis. Gaya kohesi yaitu gaya tarik menarik antar pertikel yang sejenis, sedangkan adhesi yaitu gaya tarik menarik antar pertikel yang tidak sejenis. Gaya kohesi lebih besar daripada gaya adhesi karena molekul yang sejenis akan tarik menarik lebih kuat adripada molekul yang tidak sejenis.
Perbedaan jenis cairan mempengaruhi besar tekanan hidrostatis dimana pada air tekanan hidrostatisnya lebih besar dari pada minyak karena massa jenis air lebih besar dari pada massa jenis minyak. Perbedaan jenis cairan ini menyebabkan ketinggiannya pun berbeda. Hal ini menunjukan jika ketinggiannya besar maka tegannya kecil dan jika ketinggianya kecil maka tegangnya besar seperti pada tabel yang ketiga atau semakin besar pegurangan air maka teganngay semakin besar.















BAB VI
PENUTUP
6.1. Kesimpulan
Dari praktikum yang telah dilakukan maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1.             Tekanan hidrostatis air lebih besar daripada tekanan hidrostatis minyak goreng, karena massa jenis air lebih besar daripada massa jenis minyak goreng
2.             Faktor-faktor yang mempengaruhi tekan hidrostatis diantaranya yaitu, massa jenis zat, gaya gravitasi bumi, ketinggian dan diameter pipa.
3.             Besar tekanan hidrostatis karena perbedaan diameterkecil diperoleh sebesar 19,6 Pa dan diameter besar diperoleh sebesar 9,8 Pa.
4.             Besar tekanan hidrostatis karena perbedaan cairan diperoleh takan hidrostatis air sebesar 19,6 Pa dan tekanan hidrostatis pada minyak goreng sebesar 9,016 Pa.
5.             Besar tekanan hidrostatis karena perbedaan ketinggian tekana hidrostastis air diperoleh dari ketinggian 0,002 cm sebesar 2,94 x 10-2 m,  Pa dan ketinggian 0,001 cm diperoleh sebesar 1,35 x 10-2 m,  Pa.
6.2. Saran
            Tekanan hidrostatis memiliki menfaat yang besar bagi kehidupan manusia
terutama dalam bidang teknik pertanian yang berhubungan dengan sistem irigasi maupun pembangkit listrik untuk membantu masyarakat.






BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Suhu adalah ukuran panas ataupun dingin suatu benda. Suhu yang sangat panas dan dingin  mampu mempengaruhi bentuk benda. Pemuaian terjadi bila dipanaskan dan menyusut ketika didinginkan. Bila suatu zat dipanaskan (suhunya dinaikkan) maka molekul molekulnya akan bergetar lebih cepat dan amplitudo getaran akan bertambah besar, akibatnya jarak antara molekul benda menjadi lebih besar dan terjadilah pemuaian. Pemuaian adalah bertambahnya ukuran benda akibat kenaikan suhu zat tersebut. Pemuaian dapat terjadi pada zat padat, cair, dan gas. Besarnya pemuaian zat sangat tergantung ukuran benda semula, kenaikan suhu dan jenis zat. Efek pemuaian zat sangat bermanfaat dalam pengembangan berbagai teknologi.
Pemuaian volume adalah pertambahan ukuran volume suatu benda karena menerima kalor. Pemuaian volume terjadi benda yang mempunyai ukuran panjang, lebar dan tebal. Contoh benda yang mempunyai pemuaian volume adalah kubus, air dan udara. Volume merupakan bentuk lain dari panjang dalam 3 dimensi karena itu untuk menentukan koefisien muai volume sama dengan 3 kali koefisien muai panjang. Sebagaimana yang telah dijelskan diatas bahwa khusus gas koefisien muai volumenya sama dengan 1/273. Oleh karena itu diperlukan adanya praktikum suhu dan pemuaian.
1.2.Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui pemuaian berbagai jenis zat dengan perlakuan suhu yang berbeda.

 

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian Pemuaian
Pemuaian adalah bertambahnya ukuran suatu benda karena pengaruh perubahan suhu atau bertambahnya ukuran suatu benda karena menerima kalor. Sebagian besar zat akan memuai bila dipanaskan dan menyusut ketika didinginkan. Bila suatu zat dipanaskan (suhunya dinaikkan) maka molekul-molekulnya akan bergetar lebih cepat dan amplitudo getaran akan bertambah besar, akibatnya jarak antara molekul benda menjadi lebih besar dan terjadilah pemuaian. Pemuaian adalah bertambahnya ukuran benda akibat kenaikan suhu zat tersebut. Pemuaian dapat terjadi pada zat padat, cair, dan gas (Nasri, 2011).
2.2. Pemuaian Zat Padat
Pada umumya benda yang berwujud (zat padat) akan bertambah panjangnya dengan meningkatnya suhu seperti alumunium dan sebagainya. Apabila sebatang logam pada suhu T1 mempunyai panjang Lo akibat dipanaskan suhu menjadi T2, panjangnya akan bertambah menjadi Lt.Rumus umum untuk muai panjang di nyatakan sbb:
Lt= Lo (1+α∆T)
Keterangan :
Lt        = panjang setelah dipanaskan
Lo        = panjang mula-mula
α          = koefisian muai panjang
∆T       = perbedaan suhu
Koefisien muai panajang suatu benda adalah perbandingan antara pertambahan panjang terhadap panjang awal benda persatuan kenaikan suhu . Jika suatu benda padat dipanaskan maka benda tersebut akan memuai kesegala arah,dengan kata lain ukuran panjang bertambahnya ukuran panjang suatu benda karena menerima kalor.alat untuk membandingkan muai panjang dari berbagai logam adalah maschen brock.ketika tiga batang logam yang berbeda jenis (tembaga,almunium,besi) dan sama panjang walaupun panjang dari ketiga logam sama dengan mengalami kenaikan suhu yang sama.tetapi pertambahan panjangnya berbeda.
Peristiwa yang mengikuti penambahan temperatur pada bahan adalah perubahan ukuran dan keadaanya.keadaan temperatur akan mengakibatkan terjadinya penambahan jarak rata-rata atom bahan. Hal ini mengakibatkan terjadinya pemuaian (ekspensi) pada seluruh padatan tersebut. Perubahan pada dimensi linier disebut sebagai muai linier, jika penambahan temperatur ΔT adalah penambahan panjang ΔT, untuk penambahan temperatur yang kecil, maka pertambahan panjang pada tempertur (lt) akan sebanding dengan perubahan temperatur dengan panjang muai. (Lo) (Aliya, 2012).
2.3. Pemuaian Panjang
Pemuainan panjang adalah bertambahnya ukuran panjang suatu benda karena menerima kalor. Pada pemuaian panjang nilai lebar dan tebal sangat kecil dibandingkan dengan nilai panjang benda tersebut. Pemuaian panjang suatu benda dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu panjang awal benda, koefisien muai panjang dan besar perubahan suhu. Koefisien muai panjang suatu benda sendiri dipengaruhi oleh jenis benda atau jenis bahan (Ridwan, 2010).
2.4.Pemuaian Volume
Pemuaian volume adalah pertambahan ukuran volume suatu benda karena menerima kalor. Pemuaian volume terjadi benda yang mempunyai ukuran panjang, lebar dan tebal. Contoh benda yang mempunyai pemuaian volume adalah kubus, air dan udara. Volume merupakan bentuk lain dari panjang dalam 3 dimensi karena itu untuk menentukan koefisien muai volume sama dengan 3 kali koefisien muai panjang (Shaufi, 2011).
2.5 Suhu
Suhu menunjukkan derajat panas benda. Mudahnya, semakin tinggi suhu suatu benda, semakin panas benda tersebut. Secara mikroskopis, suhu menunjukkan energi yang dimiliki oleh suatu benda. Setiap atom dalam suatu benda masing-masing bergerak, baik itu dalam bentuk perpindahan maupun gerakan di tempat getaran. Makin tingginya energi atom-atom penyusun benda, makin tinggi suhu benda tersebut.Suhu juga disebut temperatur yang diukur dengan alat termometer. Empat macam termometer yang paling dikenal adalah Celsius, Reaumur, Fahrenheit dan Kelvin. (Sasrawan, 2013)
2.6. Prinsip Penerapan Pemuaian dalam Teknologi
1. Bimetal
Bimetal adalah dua keping logam yang angka muainya berbeda kemudian dijadikan satu. Bimetal yang dipanaskan akan melengkung ke arah logam yang angka muainya kecil. Demikian juga kalau didinginkan, bimetal akan melengkung ke arah logam yang angka muainya besar. Penggunaan bimetal antara lain untuk termostat, sakelar otomatis pada lampu sein, dan termometer bimetal.
2. Pengelingan
Mengeling yaitu menyambung dua pelat dengan menggunakan paku keling. Cara pengelingannya dengan memanaskan paku, kemudian dimasukkan ke dalam lubang pelat. Setelah dimasukkan, ujung paku keling dipukul hingga melebar dan menjepit 2 pelat tersebut. Setelah dingin, paku keling mengkerut dan menjepit pelat dengan sangat kuat. Pengelingan biasanya digunakan pada pembuatan badan kapal, penyambungan besi jembatan, pembuatan tangki, dan pembuatan badan pesawat.
3. Pemasangan Bingkai Besi Roda
Zaman dahulu, roda pedati atau delman dibuat dari kayu yang dibingkai dengan besi dan karet. Untuk memasang bingkai besi, bingkai diusahakan dalam keadaan panas karena dalam keadaan dingin bingkai tidak dapat masuk pada roda. Setelah dipanaskan, bingkai akan mengalami pemuaian sehingga besar lingkaran dalam bingkai membesar dan dapat masuk pada roda delman. Saat dingin, bingkai besi akan mengerut dan menempel pada roda dengan kuat.


4. Pemasangan Kaca Jendela
Pada pemasangan kaca jendela, biasanya tidak dilakukan dengan tepat tetapi agak longgar. Mengapa demikian? Jika kita memasang kaca dengan tepat pada bingkainya maka saat udara panas, pemuaian akan terjadi pada kaca dan kaca dapat pecah. Karena besarnya pemuaian kaca lebih besar daripada pemuaian bingkai jendela, sehingga luas dan volume bingkai tidak dapat mengikuti kaca. Dari prinsip pemuaian ini, pemasangan kaca jendela atau kaca pintu dibuat agak longgar untuk mengantisipasi pemuaian yang terjadi pada kaca. (Giancol,2001)





BAB III
METODELOGI PRAKTIKUM
3.1. Waktu dan Tempat Praktikum
            Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasa, 19 Januari 2016 di Laboratorium Teknik Bioproses Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri Universitas Mataram.
3.2. Alat dan Bahan Praktikum
3.2.1. Alat-alat Praktikum
Adapun alat yang digunanakan dalam praktikum ini adalah erlenmeyer, termometer digital, kompor listrik dan roll meter.
3.2.2. Bahan-bahan Praktikum
            Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah air dan balon karet.
3.3. Prosedur Kerja
            Adapun prosedur kerja dalam praktikum ini adalaha sebagai berikut:
1.        Diisi air dalam erlenmeyer 150 ml.
2.        Dipanaskan air dengan kompor listrik kemudian diukur suhunya setiap 2 menit selama 6 menit.
3.        Dihitung perubahan keliling balon karet setiap 2 menit.
4.        Dimasukkan data pada tabel dan dihitung hasilnya.



BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN
4.1  Hasil Pengamatan
No.
Suhu  (0C)
Waktu (s)
Keliling (m2)
Jari-Jari (m)
Volume (m3)
1
0
0
0
0
0
2
34,9
2
35
5,57
723,49
3
98,2
4
53
8,43
2508,13
4
102,5
6
56
8,91
2946,76
4.2  Grafik
Gambar 8. Grafik hubungan Suhu dengan Volume
4.3 Hasil Perhitungan
1.      Diketahui :
 T               = 0 0C
t                 = 0 menit
keliling      = 0 meter
Ditanya :
Jari-jari (r) ?
Volume (V) ?
penyelesaian :
keliling balon         = 2πr
       0   = 2 × 3,14 × r
       0   = 6,28 × r
        r    = 0 m
Volume (v)            = πr3
                              =× 3,14 × 03
                              = 0 m3
2.      Diketahui :
 T               = 34,9(0C)
t                 = 2(s)
keliling      = 35
Ditanya :
Jari-jari (r) ?
Volume (V)?
penyelesaian :
keliling balon                     = 2πr
            35        = 2 × 3,14 × r
             35        = 6,28 × r
 r          = 5,57 m
Volume (v)                        = πr3
                                          =× 3,14 × 5,573
                                           = 723,49 m3
3.      Diketahui :
 T               = 98,9(0C)
t                 = 4(s)
keliling      = 53
Ditanya :
Jari-jari (r) ?
Volume (V) ?
penyelesaian :
keliling balon                     = 2πr
            53        = 2 × 3,14 × r
             53        = 6,28 × r
             r           = 8,43 m
Volume (v)                        = πr3
                                          =× 3,14 × 8,433
                                          = 2508,13 m3
4.      Diketahui :
 T               = 102,5(0C)
T                = 6(s)
keliling      = 56
Ditanya :
Jari-jari (r) ?
Volume (V) ?
penyelesaian :
keliling balon                     = 2πr
            56        = 2 × 3,14 × r
             56        = 6,28 × r
             r           = 8,91 m
Volume (v)                        = πr3
                                          =× 3,14 × 8,913
                                          = 2946,76 m3


BAB V
PEMBAHASAN
Suhu merupakan besaran yang menyatakan derajat panas dingin suatu benda. Pemuaian adalah pertambahan ukuran suatu benda atau perbesaran benda dikarenakan pertambahan suhu. Pertambahan ukuran ini bervariasi mulai dari panjang, luas dan volume. Kenaikan suhu mengakibatkan benda tersebut mendapatkan tambahan energi  berupa kalor yang menyebabkan molekul-molekul pada benda tersebut bergerak lebih cepat. Setiap zat mempunyai kemampuan muai yang berbeda beda. Gas misalnya mempunyai kemampuan muai lebih besar diabanding zat padat dan cair. Sedangkan zat cair kemampuan muainya lebih besar dibanding zat padat.
Pemuaian dibagi menjadi tiga jenis, yaitu pemuaian zat padat, cair dan gas, namun pada kali ini kita hanya akan membahas pemuaian yang terjadi pada zat cair dan gas.. Pemuaian yang terjadi pada zat cair hanya pemuaian volume saja. Khusus untuk air, pemuaian tidak berlaku pada suhu 0°C sampai dengan 4°C karena pada selang suhu tersebut volume air mengalami penyusutan. Sifat air itu dinamakan anomali air.
            Diukur jari-jari pada balon yang sudah dipanaskan pada setiap 2 menit pertambahannya. Pada menit pertama jari-jari dan volume masih 0. Pada menit kedua jari-jari bertambah menjadi 5,57 m dan  volume 723,49 m3. Pada menit ketiga jari-jari bertambah menjadi 8,43 m dan volume 2508,13 m3. Pada menit keempat jari-jari semakin bertambah menjadi 8,91 m dan volumenya 2946,76 m3. Pada praktikum didapatkan pertambahan suhu yaitu mulai dari 0, 34,9 C, 98,2C, 105,5C.
Hasil praktikum menunjukan perubahan dari setiap menitnya, ini menandakan antara suhu  terhadap volumenya bertambah hal ini dikarenakan salah satu sifat gas adanya perubahan volume dan selalu mengisi seluruh ruangan. Oleh karena itu suhu yang bertambah ini akan merubah bentuk balon yang ada diatasnya karena udara dalam erlenmeyer mendesak balon yang semula kempes menjadi mengembang. Hukum Gay-Lussac sangat berpengaruh terhadap praktikum ini yang menyatakan bahwa tekanan gas sebanding dengan suhu mutlak gas sehingga bisa dikatakan semakin tinggi suhu pada zat gas semakin tinggi volume yang didapatkan. Pada muai volume, zat padat mempunyai tiga dimensi yaitu panjang, lebar dan tinggi. Muai volume adalah bertambahnya panjang, lebar, dan tinggi zat tersebut. Karena muai volume merupakan penurunan dari muai panjang, maka muai volume juga tergantung dari jenis zat.
Pengaplikasian suhu dan pemuaian volume dalam kehidupan sehari-hari adalah saat menuangkan air panas langsung pada gelas kaca yang bekas diisi air dingin, maka gelas kaca tersebut akan pecah.Hal ini terjadi karena pemuaian volume yang terjadi pada bagian dalam gelas tidak sama dengan pemuaian yang terjadi pada bagian luar gelas, bagian dalam gelas memuai lebih dulu atau lebih cepat dari pemuaian yang terjadi pada bagian luar gelas sehingga menyebabkan gelas tersebut pecah. Begitu pula yang terjadi sebaliknya, apabila gelas diisi dengan air dingin setelah berisikan air panas, hal ini jugadisebabkan oleh hal yang sama, penyusutan yang terjadi pada bagian dalam gelas tidah berbarengan dengan  bagian luar gelas. Bagian luar gelas menyusut lebih lama dibandingkan dengan bagian dalam gelas sehingga menyebabkan gelas tersebut pecah. Selain itu saat menuangkan air panas kedalam botol pelastik. Gas di  dalam botol pelastik akan memuai sehingga akan mempengaruhi bentuk botol. Namun, ketiak botol pelastik yang berisi air panas kemudian disiram dengan air es, maka udara akan menyusut dan bentuk botol akan kembali pada bentuk semula.Dari contoh pengaplikasian diatas maka dianjurkan untuk memperhatikan jenis benda ketika akan mencampurkan sesuatu. Contohnya saat melakukan pencampuran antara satu bahan dengan yang lain agar hasil yang didapatkan maksimal dan bagus.


BAB VI
PENUTUP
6.1. Kesimpulan
            Berdasarkan hasil pengamatan, perhitungan dan pembahasan dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1.      Suhu merupakan besaran yang menyatakan derajat bebas panas dingin suatu benda.
2.      Pemuaian adalah pertambahan ukuran suatu benda atau perbesaran benda dikarenakan pertambahan suhu.
3.      suhu yang bertambah ini akan merubah bentuk balon yang ada diatasnya karena udara dalam erlenmeyer mendesak balon yang semula kempes menjadi mengembang.
4.      contohnya air panas langsung pada gelas kaca yang bekas diisi air dingin, maka gelas kaca tersebut akan pecah.
5.      dianjurkan untuk memperhatikan jenis benda ketika akan mencampurkan sesuatu agar hasil yang didapatkan bagus.
6.2. Saran
            Pemahaman tentang suhu dan pemuaian sangat penting, mengingat proses pengolahan industri menggunakan suhu sebagai dasar untuk proses pengeringan.

DAFTAR PUSTAKA
Aliyah,Indah.2012. Fisika Dasar. blogspot.com/2012/11 Fisika Dasar.html (Diakses pada tanggal 19 Januari 2016).

Giancol, D. C., 2001. Fisika Jilid I (Terjemahan). Erlangga. Jakarta.

Halliday, Resnick. 2009. Fisika Jilid 1 (terjemahan). Ganesha : Jakarta.

Hamidah, Ida. 2009. Fisika I. Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia.

Handoko, Agus. 2009. Fisika Dasar I. Erlangga : Jakarta.

Iskandar,zazah.2014. Konsep Energi Dan Bentuk Energi http://id.shvoong.com . Diakses 21 Januari 2016.

Kanginan, Marthen.  2007.  IPA Fisika untuk SMP Kelas VIII.  Erlangga : Jakarta.

Leonheart.  2010.  Tekanan Udara.Universitas Airlangga : Surabaya.

Nasri,Muhammad.2011.Penuntun Praktikum Fisika Dasar.Fakultas Pertanian : Universitas Jambi.

Pantur. 2009. Fisika Jilid 1. Jakarta:Erlangga.

Pauliza, Osa. 2012. Fisika Kelompok Teknologi. word Express : Purwakarta.

Ridwan. 2010. Gerak Harmoni. blogspot.com/2010/12/gerak-harmoni-sederhana.html (Diakses pada tanggal 19 Januari 2016).

Sangdedi.  2010.  Tekanan Pada Zat Serta Hukumnya. http://klikbelajar.com. (Diakses tanggal 19 Januari 2016).

Shaufi, ahmad. 2011. Diktat Praktikum Fisika. Universitas Indonesia : Jakarta.

Supriyono. 2009.  Buku Pintar Belajar Fisika untuk Siswa SMA. Sagufindo Kinarya : Cirebon.

Sasrawan, Hedi. 2013. Gerak Lurus Berubah Beraturan. Pustaka Ilmu : Malang.

Tryabbabling, 2011. Gerak jatuh bebas. http://www. Gerak jatuh-bebas.wordpress.com. Diakses pada tanggal 21 Januari 2016.

Zemansky.2010. Fisika untuk Universitas (terjemahan). Erlangga : Jakarta.



 






Persiapan Iktikaf

InsyAllah pada hari jum'at 15 maret 2024 ini Aku akan pergi melaksanalan indah iktikaf di masjid Yang mana indah ini adalah yang pertama...