BUDIDAYA
PADI TANAM BENIH LANGSUNG, ALTERNATIF POTENSIAL MENGATASAI KEKERINGAN DI SAWAH
IRIGASI TERBATAS
Ketersediaan air
merupakan faktor utama dalam meningkatkan produktifitas dan produksi padi di
Nusa Tenggara Barat. Hal ini disebabkan fenomena iklim yang tidak menentu. Seperti
periode hujan yang semakin singkat, curah hujan tahunan yang cenderug menurun
dan pendistribusian hari-hari hujan tidak merata. Kondisi ini menyebabkan denit
air di sumber-sumber irigasi seperti bendungan dan embung semakin berkurang. Oleh
karena itu dibutuhkan strategi yang jitu untuk mengatasi persoalan yang ada. Salah
satu cara yang bisa ditempuh adalah merubah cara tanaman dari tanam pindah
menjadi tanam benih langsung (TABELA); pengelolaan air basah kering
(intermitten); dan penanaman varietas unggul toleran kekeringan (darught
tolerant). Ketiga komponen ini akan semakin efektif apabila dirakit dalam satu
paket teknologi yang bersinergi bersama komponen budidaya padi lainnya.
Apabila komponen
teknologi tabela diterapkan sesuai rekomendasi, pada umumnya produktivitas padi
tabela tidak berbeda dengan produktifitas padi tanam pindah bahkan lebih tinggi
karena pada tabela terdapat fase tanaman tanpa genangan yang sangat penting
untuk pertumbuhan tanaman.
Tabela basah
adalah teknik bertanam padi dengan menanam benih langsung pada sawah irigasi
yang tanahnya diolah secara basah hingga melumpur, pengelolaan air diatur
sesuai pertumbuhn tanaman dengan komponen teknologi sebagai berikut:
1.
Persiapan lahan
2.
Pemilihan varietas
3.
Perlakuan benih
4.
Penanaman
5.
Pengelolaan air
6.
Pengendalian gulma
7.
Pemupukan
8.
Pengendalian hama penyakit
Tidak ada komentar:
Posting Komentar