BIOGAS
SEBAGAI ENERGI ALTERNATIF
Bicara soal
energi yang menjadi transenter di zaman now, merupakan topik yang tiada
habisnya. Berbagai lini masyarakat bahu membahu untuk menciptakan berbagai
energi yang baru dan terbarukan sebagai pengganti energi fosil yang
diperkirankan akan habis pada tahun 2050. Salah satunya adalah pemanfaatan
biogas.
Biogas
merupakan suatu gas yang dihasilkan dari proses fermentasi suatu limbah atau
kotoran sapi yang digunakan sebagai bahan. Pada umumnya semua jenis bahan organik bisa diproses untuk menghasilkan biogas.
Namun demikian kebanyakan bahan organik baik padat atau cair seperti kotoran
dan urine (air kencing) hewan ternaklah yang biasanya dimanfaatkan untuk sistem
biogas sederhana. Jenis bahan organik yang diproses sangat mempengaruhi
produktivitas sistem biogas.
Gas metana dapat dihasilkan dari sebuah siklus biogas dalam satu alat
biodigester. Siklus biogas ini haruslah diawali dengan proses anaerob atau
tanpa udara, hal ini karena bakteri penghasil biogas akan bekerja pada suasana
kedap udara tersebut. Adapun proses biogas ini adalah:
1. Tahap hidrolisis
Tahap ini merupakan tahan yang akan menyerderhanakan
bahan-bahan. Ibarat ketika kita akan menyantap suatu makanan, yakni mengunyah
makanan hingga lumat, yang mengartikan menyederhanakn bentuk makanan yang besar
menjadi terpisah-pisah atau lebih kecil.
2. Tahap pengasaman.
Tahap kedua yaitu tahap pengasaman dimana terbentuknya bakteri asetogenik,
yang dimana tahapan ini menghasilkan produk utama berupa asetat. Pada tahap
pengasaman ini terjadi dua tahap yaitu asidogenesis dan asetogenesis. Pada
proses asidogenesis merupakan proses pembentukan asam organik, dimana komponen
monomer yang terbentuk dari tahap hidrolisis menjadi asam lemak volatile dan CO2.
Kemudian penguraian asam lemak volatile menjadi asam asetat dan H2
yang disebut dengan proses asetogenesis. Ibarat ketika sudah mengunyah makanan,
maka makanan akan lebih disederhanakan pada usus dan lambung.
3. Tahap metanogenik
Fase ini merupakan proses akhir dari anaerob dimana terjadi pembentukan gas
metan (CH4) dari tahapan sebelumnya asam asetat, CO2 dan
H2. Terdapat dua kelompok mikroba dalam bakteri metanogen dalam
menghasilkan produksi metan. Ibarat selesai makanan di proses oleh sistem
pencernaan. Maka makanan tersebut akan dibawa oleh darah menuju seluruh tubuh
kita untuk memberikan kita energi dari hasil yang paling sederhana namun
memounyai manfaat yang sangat besar.
Setelah
meleawti fase-fase pembentukan gas metana ini. Maka gas yang dihasilkan dapat
dimanfaatkan untuk berbagai aktifitas seperti memasak, menghidupkan lampu,
menyalakan generator. Dengan instalasi yang besar perlahan-lahan masyarakat
dapat memanfaatkan biogas sebagai energi utama yang akan menggantikan energi
fosil. Sebab pada dasarnya energi tidak akan habis, namun akan diubah kebentuk
yang lainnya.
Salah satu
yang menjadi permasalah biogas adalah masalah limbah biogas atau yang disebut
slurry. Slurry memiliki kandunga karbon (COD) yang sudah rendah dan relatif
bebas patogen. Oleh karena itu slurry ini dapat dimanfaatkan menjadi:
1.
Pupuk organik cair
Slurry yang digunakan
untuk pupuk cair adalah slurry yang tidak berbau dan bewarna gelap. Keunggulan
pupuk organik cair ini adalah aman dari pada menggunaan kotoran ternak segar
karena sebagian besar bakteri patogen dan gulma yang ada sudah mati dalam proses
anaerobik.
2.
Kompos
Pembuatan kompos dengan
slurry ini dapat dicampurkan dengan bahan-bahan organik lain yang lebih kering,
misalnya jerami, dedaunan kering, sampah rumah tangga dan sebagainya. Untuk
mendapatkan hasil yang maksimal sampah dapat dibolak balek beberapa kali untuk
memastiakn semua bagian terkena cukup oksigen. Pengomposan ini akan berlangsung
1-2 bulan.
3.
Kompos cacing
Pembuatan kompos cacing
serupa dengan pembuatan kompos biasa, kemudian campuran ini dipakai sebagai
media tumbuh cacing tanah. Cacing yang biasanya digunakan adalah jenis
lumbricus rubellus dan eisenia foetida. Proses pengomposan selama 2 minggu.
Kompos ini akan menyerupai tanah dengan butiran-butiran kecil yang merupakan
kotoran cacing. Setelah kompos terbentuk cacing dan kotoran cacing dipisahkan.
4.
Pakan ikan atau ternak
Pembuatan pakan ikan
atau ternak ini hanya ketika bahan biogas sisa-sisa limbaha makanan atau rumah
tangga. Jika limbah kotoran sapi atau unggas makan tidak diperkenankan.
Slurry akan memberikan
peningkatan poduksi ikan lele. Pemeberian kedalam kolam secara langsung dapat
mengurangi tingkat kematian lele dan mengurangi serangan penyakit. Selain itu
slurry dapat diolah menjadi pelet dengan pemcampuran ampas tahu, tepung ikan,
dll. Selain itu slurry juga digunakan untuk budidaya tanaman lemna rumput
bebek, yang kemudian dapat digunakan sebagi campuran pakan ternak.
5.
Media budidaya jamur
Slurry dapat digunakan
sebagai campuran media untuk membudidayakan jamur yang akan membantu
pertumbuhan jamur lebih cepat dan sehat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar